Senin, 19 April 2010

sistem manusia mesin

Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects (proses perancangan produk) dan lingkungan kerja. Pendekatan agro ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Maka, secara sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.

Disini kita akan membahas sedikit mengenai bagaimana agro ergonomi dapat meningkatkan produktivitas petani. Upaya peningkatan produktivitas petani secara terus-menerus dan menyeluruh merupakan hal yang penting tidak saja berlaku bagi setiap individu petani, juga bagi instansi yang terkait di sektor pertanian. Dengan peningkatan produktivitas maka tanggung jawab manajemen akan terpusat pada upaya dan daya untuk melaksanakan fungsi dan peran dalam kegiatan produksi. Khususnya yang bersangkut-paut dengan efisiensi penggunaan sumber-sumber input. Pendekatan agro ergonomi akan memainkan peran yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas petani. Beberapa peneliti di bidang ergonomi telah melakukan upaya ke arah tersebut. Seperti pada penelitian dengan memodifikasi meja pengumpan dan menambah peredam kebiasaan pada mesin perontok padi, dapat meningkatkan produktivitas kerja petani sebesar 46,49% (Sucipta, 2004). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutjana (1998) yaitu produktivitas kerja penyabit padi menggunakan sabit bergigi lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan sabit biasa dan berbeda bermakna setelah lima belas menit pertama, dan hasil penelitian Erawan (2002) bahwa produktivitas kerja operator traktor dari perbaikan rancang bangun handel yang mengacu aspek antropometri meningkat sebesar 23,25%. Contoh lain dari aplikasi disiplin ergonomi juga bisa dilihat dalam proses perancangan peralatan kerja untuk penggunaan yang lebih efektif. Perkakas kerja seperti sabit atau cangkul misalnya dengan pegangan (handle) yang berbentuk kurva pada dasarnya merupakan hasil dari human engineering studies. Desain handle yang berbentuk kurva — dan disesuaikan dengan bentuk genggaman tangan — akan memudahkan cara pengoperasian peralatan tersebut. Dengan demikian ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik; yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, efisien, aman dan nyaman. Sistem kerja di sini dimaksudkan sistem hubungan manusia-mesin (teknologi) yang dipertimbangkan sebagai sistem yang terpadu. Kalau di saat yang lalu perancangan mesin semata-mata ditekankan pada kemampuannya untuk berproduksi semata dengan atau sedikit sekali memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan elemen manusia maka sekarang dengan ergonomi proses perancangan mesin akan memperhatikan aspek-aspek manusia dalam interaksinya dengan mesin secara lebih baik lagi. Dengan kata lain di sini manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang dioperasikan melainkan sebaliknya, mesin dirancang dengan terlebih dulu memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikannya. Manusia yang merupakan salah satu komponen dari suatu sistem kerja dengan segala aspek, sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau dari satu segi ilmu saja. Oleh sebab itulah maka untuk mengembangkan ergonomi memerlukan dukungan dari berbagai disiplin keilmuan seperti kedokteran (faal/anatomi), psikologi, antropologi, biologi, di samping berbagai disiplin teknologi lainnya. Pendekatan khusus ergonomi ialah aplikasi yang sistematif dari segala informasi yang relevan, yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia di dalam perancangan peralatan, fasilitas dan ingkungan kerja yang dipakai.

Proses kognitif dalam diri manusia terdiri dari :

Sensasi – persepsi – perhatian - berpikir – mengambil keputusan - memori - motivasi

1. Sensasi

Tahap paling awal dalam penerimaan informasi
Sensasi berasal dari kata “sense”,
alat penginderaan yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya.

Proses sensasi : proses ketika alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls syaraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak maka terjadilah (Dennis Coon, 1977).
Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak membutuhkan penguraian verbal, simbolis, maupun konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan alat indera (Benyamin B. Wolman, 1973).
2. Persepsi

Definisi :

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Persepsi ialah memberikan rnakna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari stimuli. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori (Desiderato, 1976).
Yang mempengaruhi persepsi :

Persepsi seperti halnya sensasi, ditentukan oleh faktor- faktor :

Faktor Personal dan Faktor situasional. David Krech & Richard S. Crutchfield (1977) menyebutnya faktor fungsional dan struktural.
Faktor perhatian (Rachmat, 1992).
3. Perhatian

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kennerth E. Andersen, 1972).

Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indera kita, dan mengesampingkan masukan-masukan dari indera lainnya.

4. Berpikir

Berpikir merupakan proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap stimuli. Dalam berpikir digunakan lambang grafis (graphic symbols) maupun lambang verbal (verbal symbols). Keduanya merupakan representasi objek atau peristiwa; artinya menggantikan objek atau peristiwa dalam benak.

Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak (Ruch, 1967).

Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka:

mengambil keputusan (decision making)
memecahkan persoalan (problem solving)
menghasilkan yang baru (creativity)
5. Pusat Pengambilan Keputusan

Sekali informasi dipahami, sebuah keputusan harus diambil, yaitu apa yang seharusnya dilakukan berkaitan dengan hal tersebut.

Hal itu digunakan sebagai pemicu respon segera atau dimasukkan sebagai bagian dari pemrosesan memori.

Informasi mungkin secara berkesinambungan masuk dan dipanggil dari memori untuk membantu pemrosesan keputusan.

Pada bagian ini keputusan dibuat apakah akan :

menyimpan informasi Ini dalam rentang waktu yang pendek dalam memori jangka pendek (working memory) dengan secara aktif melatih atau mengulang secara internal,

atau berusaha mempelajari informasi tersebut dan disimpan secara permanen dalam memori jangka panjang.

6. Memori

Memori adalah sistem yang sangat terstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakannya untuk membimbing perilakunya (Scheessinger & Groves, 1976).

Setiap saat stimuli mengenai indera kita. Setiap saat pula stimuli direkam secara sadar maupun tidak.

Secara singkat memori melewati tiga proses (Mussen & Rosenzweig, 1973):

Perekaman (encoding), pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkuit syaraf internal
Penyimpanan (storage), menentukan berapa lama informasi dipertahankan, dalam bentuk apa, dan dimana. Penyimpanan bisa bersifat aktif maupun pasif Aktif jika terjadi penambahan informasi.
Pemanggilan (retrieval), mengingat lagi dan menggunakan informasi yang disimpan
7. Motivasi

Motivasi lebih diartikan sebagai tingkah laku yang mengarah pada tujuan. Ini didasari oleh dua konsep dasar, yaitu kebutuhan yang berasal dari orang itu sendiri dan tujuan di lingkungan di mana orang itu berada.

Dalam bentuknya yang paling mudah, motivasi diawali oleh adanya kebutuhan yang belum terpuaskan. Tujuan ditetapkan untuk memuaskan kebutuhan. Dan dilakukan aksi-aksi dalam proses pencapaian suatu tujuan. Tetapi, pada saat telah terpuaskan, kebutuhan baru muncul dan terjadilah lingkaran berkelanjutan.

Motivasi berasal dan kata latin movere yang berarti menggerakkan (to move). Vroom (1964) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu proses yang mengatur pilihan pilihan yang dibuat oleh seseorang di antara berbagai bentuk alternatif dari kegiatan sukarela.

Glueck (1978) mengatakan bahwa motivasi adalah suatu rangkaian atribut yang mendorong seseorang untuk bertindak dalam suatu cara yang spesifik, yang mengarah pada tujuan.

Motivasi adalah keadaan individual yang memberi energi, menyalurkan dan mendorong perilaku manusia untuk mencapai tujuan.

Newstorm (1990) mengatakan bahwa motivasi berhubungan dengan kekuatan dan arah tingkah laku.

Dari definisi-definisi di atas dapat dilihat bahwa motivasi berkaitan dengan:

Apa yang menggerakkan perilaku manusia
Apa yang mengarahkan penyaluran perilaku itu
Bagaimana mengarahkan perilaku ini


Motivasi kerja dapat dibedakan dalam dua bentuk.

Internal : dari dalam dirinya

seseorang dapat memotivasi dirinya sendiri dengan melihat, mencari, melakukan suatu pekerjaan yang memuaskan kebutuhan atau setidaknya membawa mereka mencapai tujuannya.

Eksternal : dari luar dirinya

seseorang dapat dimotivasi oleh suatu organisasi melalui beberapa metode seperti gaji, promosi, kebanggaan, dan sebagainya (Michael Amstrong, 1993).

8. Ekspektasi Dorongan

Istilah ekspektasi dorongan (Driving Ekspectancy/DE) berasal dari ilmu psikologi, yaitu suatu proses bagi seseorang dengan ide dan konsep yang sudah mapan pada dirinya, dihadapkan pada sebuah stimulus dan melakukan reaksi (respon) terhadap Stimulus tersebut dengan melakukan berbagai cara.

Jika stimulus tersebut sesuai dengan DE seseorang, maka tidak ada konflik yang terjadi dan reaksi orang itu diharapkan merupakan reaksi yang tepat. Sebaliknya, jika situasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam DE, maka timbul ketidakpastian, dan respon yang timbul mungkin tidak sesuai dengan stuasinya, atau tidak ada respon sama sekali (Bailey, 1988).

9. Kecepatan dan Ketelitian

Yang dimaksud dengan kecepatan di sini adalah berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Sedangkan ketelitian adalah jumlah kesalahan yang dilakukan per satuan waktu, ini berhubungan dengan gerakan-gerakan dalam pencarian ‘jejak’ (untuk pekerjaan yang memerlukan pengawasan terus-menerus, pada saat melakukan suatu tindakan yang memerlukan ketelitian dan pengawasan, dan pada saat melakukan kegiatan yang manipulatif).

Berbeda dari waktu reaksi yang dibatasi secara psikologis, ketelitian lebih ditekankan pada pengendalian manusia.

Sumber : http://diyan.staff.umm.ac.id/category/kuliah-sistem-manusia-mesin/
http://trescent.wordpress.com/2007/04/04/ergonomi-dalam-peningkatan-produktivitas-petani/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar